Layanan

25 September 2007

Tafsir Gempa Tim Galetzka Cenderung Menyesatkan

JAKARTA--MIOL: Ramalan tentang gempa besar bermagnitudo 9 akan terjadi dalam waktu dekat di Sumatera cenderung menyesatkan dan telah melanggar etika penelitian.

Tim ilmuwan asal California Institute of Technology, Amerika Serikat, yang memberi pernyataan ini dan diberitakan oleh situs CNN pada 18 September 2007 dinilai layak terkena hukuman paling berat yaitu tidak boleh masuk Indonesia.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono mengatakan itu saat dihubungi Media Indonesia Online, Senin.

Dalam publikasi berjudul Indonesia's big one 'on its way' (gempa besar di Indonesia akan segera terjadi), geolog tim tersebut John Galetzka menyatakan gempa besar dengan magnitude 9 akan segera terjadi dan membangkitkan tsunami yang bisa menenggelamkan Sumatera. Dasar asumsinya yaitu tekanan luar biasa di lempeng Indo-Australia dan Eurasia pascagempa Bengkulu dan Padang.

Berita ini kemudian beredar lewat mailing list dan pesan elektronik serta memunculkan isu baru. Hal ini dikritisi oleh Surono karena, menurut dia, tim ilmuwan tersebut melanggar etika ilmiah untuk tidak membuat pernyataan terbuka kepada pers di dalam maupun luar negeri tentang ramalan. "Opini ilmiah tempatnya adalah di dalam diskusi yang dihadiri kalangan terbatas," sambungnya.

Masih minimnya data yang bisa dikumpulkan untuk memprediksi gempa, tegas Surono, menjadi alasan mengapa prakiraan gempa tidak bisa dipublikasikan. Saat ini, lanjutnya, acuan meramal gempa hanya visual, deformasi lempeng menggunakan GPS, atau paling baru yaitu mengamati terumbu karang. Namun, tidak ada satupun ahli di dunia yang mampu mendeteksi waktu kejadian gempa bumi.

"Itu sebabnya sangat spekulatif untuk meramal dengan data yang sangat terbatas," tegas Surono.

Ia menerangkan, potensi gempa di pesisir barat Sumatera dan daratan Sumatera memang besar. Tanpa diramalkan, potensi ini sudah ada dan menurutnya tidak perlu ditebus dengan membuat masyarakat panik. Justru karena resiko ini sudah diketahui seharusnya masyarakat punya kesiapan bagus dan pelatihan serius tentang upaya preventifnya. "Sangat lucu kalau kita terkaget-kaget akan kejadian gempa di Bengkulu atau Padang. Atau kita balik, sangat lucu menjadi orang yang meramalkan akan terjadi gempa di sana," ungkap Surono.

Selain itu, ia beranggapan bahwa energi yang dilepaskan akibat tumbukan lempeng Indo-Australia dan Eurasia di pantai barat Sumatera sudah terlalu besar. Dalam waktu dekat, menurutnya, kecil kemungkinan sisa energi di pertemuan lempeng akan memicu gempa dengan skala lebih besar.

Senada, Kepala Pusat Gempa Nasional Suhardjono menambahkan bahwa akumulasi tekanan di lempeng akibat gempa seharusnya berkurang. Pasalnya gempa Bengkulu diikuti gempa susulan dengan magnitudo besar, lebih dari lima. Sehingga, kemungkinan gempa yang lebih besar memang ada namun waktunya menggunakan batasan umur geologi yang dalam hitungan tahun bisa ratusan hingga jutaan tahun. "Gempa memang dikontrol oleh pergerakan lempeng tektonis tetapi geraknya sangat lambat. Hanya 6-7 sentimeter per tahun. Akumulasi tekanan juga tidak terjadi di satu dua titik saja. Lempeng itu besar."

Ia menambahkan, begitu gempa Aceh, ilmuwan Indonesia juga sudah memperkirakan akan munculnya rambatan ke arah selatan. Ekspektasi itu tepat di segmen Mentawai namun waktunya tidak diketahui. (Ccr/OL-1)

Penulis: Clara Rondonuwu

sumber : mediaindonesia

Tidak ada komentar: